Sejarah Perkembangan Arsitektur Dari Masa Kemasa

Ketentuan : Desain ini adalah hak cipta dari Tukangprofesional.id. Jika menggunakan gambar ini untuk konten sosial media, blog, website dan lain-lain, diharapkan mencantumkan link ke situs kami, Terimakasih.

Sejarah perkembangan arsitektur tak lepas dari seni dan imajinasi yang kemudian dimanifestasikan ke dalam bentuk fisik. Entah itu bangunan, maupun penataan tempat atau ruang publik. Arsitektur Arsitektur sendiri adalah sebuah pola mengenai perancangan dan penataan (desain). 

Tidak ada yang tahu pasti, siapa yang mengawali atau memperkenalkan ilmu arsitektur ke khalayak luas. Sebab, arsitektur merupakan paduan seni dan imajinasi yang dimana keduanya telah ada dalam tubuh manusia secara alamiah. 

Manusia makhluk tercerdas di antara spesies-spesies lainnya, ia memiliki imajinasi yang kuat serta kemampuan untuk mengembangkan kecerdasan kognitif. Maka karena itu, arsitektur sebetulnya memang hadir secara alamiah pada diri manusia. Jadi tidak dapat dipastikan, siapa awal pencetus dari ilmu arsitektur itu.

Macam-macam Arsitektur Dari Seluruh Dunia 

Membicarakan arsitektur, tentu akan menjadi bahasan yang sangat panjang. Pasalnya, arsitektur erat kaitannya dengan peradaban umat manusia. Semakin maju dan berkembang sebuah peradaban, maka akan semakin berubah pula lah struktur arsitektur yang digunakan. 

Struktur arsitektur secara inheren juga melekat dengan kebudayaan setempat. Ada perbedaan gaya pada masing-masing tempat yang bisa kita lihat pada satu buah bangunan yang sama. Misalnya saja pada pembangunan rumah. 

Di Eropa, kita akan melihat desain rumah yang megah, berlantai dua, memiliki menara atau tiang penyangga besar di depan, serta memiliki cerobong asap. Gaya rumah seperti itu tidak kita ditemukan di Asia. 

Di Asia tidak akan kita temukan rumah yang memiliki cerobong asap, karena musim dingin di Asia tidak selama dengan negara-negara di Eropa. Di Asia jarang kita temukan rumah besar berlantai dua, karena dari kemajuan peradaban Eropa lebih diunggulkan dari Asia. 

  • Arsitektur Mediterania

Arsitektur mediterania banyak terinspirasi dari bangunan-bangunan Italia dan Spanyol. Bentuknya dinamis, penataan massa bangunan menyebar pada rumah dengan lahan yang luas. 

Meski begitu, ada pula rumah bergaya Mediterania dengan komposisi bentuk yang kompak untuk rumah pada lahan yang lebih terbatas. Bangunan tampak memiliki balkon yang menonjol, dengan jendela berukuran lebih kecil dan sedikit. 

Desain interior pada gaya Mediterania memiliki langit-langit yang umumnya langsung mengekspos struktur atap dan tidak terlalu tinggi. Bangunan bertingkat, langit-langit memperlihatkan struktur lantai. Bahan bangunan yang digunakan pun, umumnya menggunakan bahan dengan material natural. 

  • Arsitektur Klasik

Arsitektur klasik berciri khaskan anggun dan mewah. Arsitektur klasik memiliki pilar-pilar, serta ornamen dan profil yang berkembang dari kerajaan Romawi atau Yunani kuno. 

Arsitektur klasik, biasanya memiliki ukuran yang melebihi kebutuhan fungsinya. Terlihat simetris dan tata letak jendela yang teratur. Pada desain interior, langit-langit pada bangunan klasik memiliki ketinggian ideal sekitar 3.5 meter. 

Tangga rumah arsitektur klasik pun memiliki lengkung dan lebar. Setiap ruangan, dibuat terpisah dengan ukuran yang besar. Dinding dilapisi motif floral. Warna-warna yang biasa dipergunakan untuk bangunan tersebut adalah kuning keemasan, biru langit dan krem. 

  • Arsitektur Modern

Arsitektur modern cenderung lebih sederhana. Memanfaatkan setiap ruangan agar dapat berfungsi semaksimal mungkin. Memiliki ornamen garis vertikal, horizontal, dan diagonal yang sederhana pada dinding eksterior yang luas. 

Bangunan modern banyak didominasi dengan jendela yang berukuran lebar dan tinggi, lisplang memanjang dan kanopi yang menjorok ke depan. Plafon bertingkat dan void di ruang publik. Pengelolaan ruangnya pun dibuat saling terhubung dan hanya dibatasi oleh dekorasi interior yang tidak masiv. 

  • Arsitektur Eropa

Arsitektur bangunan Eropa identik dengan ukuran yang besar, terutama pada sisi selatan bangunan. Bertujuan untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai pencahayaan dan pemanas alami. Mereka menyukai sinar matahari yang langsung masuk ke dalam bangunan. 

Dan penggunaan material transparan pada sebagian elemen penutup atap, bertujuan untuk dapat memanfaatkan sinar matahari. Selain yang sudah disebutkan di atas, ada juga beberapa macam gaya Arsitektur lainnya. Seperti: Arsitektur alam (baik yang tercipta secara alamiah, ataupun yang dibuat binatang seperti rumah tempat bersarangnya), arsitektur tema, minimalis dan lainnya. 

Transformasi Arsitektur 

Arsitektur juga telah mengalami banyak perubahan. Perubahan dari zaman ke zaman pada arsitektur sendiri dikarenakan oleh pengaruh perubahan budaya, serta kecerdasan manusia yang terus berubah-ubah seiring bertambahnya waktu. 

Pada era Prasejarah, seni arsitektur bangunan rumah tinggal masih sangat sederhana dan belum memiliki nilai estetik. Bersifat sementara dan sederhana, hanya digunakan untuk berteduh dan beristirahat. 

Digunakan sementara karena manusia saat itu memang menganut hidup berpindah-pindah tempat (nomaden). Ketika zaman Palaeolithikum api telah ditemukan dan manusia sudah mulai membuat tungku api sebagai sumber cahaya dan mengolah makanan. 

Seni arsitektur bangunan pada zaman ini lebih banyak dalam bentuk susunan batu-batu. Beralih pada era Neolitikum dan menjelang zaman Logam. Kebudayaan Neolitikum telah hadir dengan beberapa penemuan-penemuan monumennya pada masa ini. 

Dan pada era Neolitikum ini pula lah telah ditemukannya seni arsitektur kuno. Hingga pada saatnya manusia tiba menuju ke zaman ‘The New Stone Age’, dan mampu merancang bangunan-bangunan serta monumen-monumen kuno yang digunakan untuk pemujaan kepada dewa. 

Arsitektur era prasejarah. Arsitektur prasejarah terus mengalami perkembangan dari zaman batu akhir, hingga menuju ke zaman tembaga. Kemudian zaman perunggu hingga zaman besi. 

Manusia pada saat itu sudah mampu melebur dan mengolah besi menjadi peralatan, sehingga rumah pada masa itu mengalami perubahan bentuk dan fungsi. Arsitektur rumah saat zaman ‘Iron Age’ sudah memiliki nilai estetik dengan memanfaatkan kayu dan jerami untuk struktur atap. 

Demikian ulasan seputar sejarah perkembangan arsitektur dari masa ke masa. Dengan memahami sejarah dan perkembangan tentang arsitektur, tentu kita tidak akan lagi menjadi abai, dan selalu kritis terhadap setiap bangunan-bangunan yang kita lihat. Dengan memahami sejarah dan perkembangan arsitektur, kita juga jadi dapat memahami apa saja jenis arsitektur bangunan dari masa ke masa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *