Kode Etik Arsitek Serta Kaidah Dasar yang Ada Di Dalamnya

Ketentuan : Desain ini adalah hak cipta dari Tukangprofesional.id. Jika menggunakan gambar ini untuk konten sosial media, blog, website dan lain-lain, diharapkan mencantumkan link ke situs kami, Terimakasih.

Sama seperti dokter, dalam dunia arsitektur kita juga akan mengenal istilah kode etik arsitek. Ini merupakan kaidah dasar yang wajib untuk diketahui calon arsitek ketika nanti membuka jasa. 

Artikel ini akan membahas seputar kode etik yang dimiliki oleh arsitek di Indonesia. Silakan scroll artikel ini ke bawah untuk informasi lengkapnya. 

Overview Kode Etik Arsitek 

Kode etik merupakan acuan terkait perilaku yang berlaku untuk korporasi maupun perseorangan. Kode etik ini menjadi sebuah hal penting yang mana harus selalu ditaati oleh para pekerja kelas profesional karena berhubungan dengan sikap kedisiplinan dalam menjalankan tugas dan kewajiban terkait bidang pekerjaan masing-masing. 

Selain diwajibkan untuk memahami dan melaksanakan kode etik, para pekerja profesional juga diwajibkan untuk memiliki pengetahuan, serta keahlian khusus yang cukup mumpuni dan dapat diandalkan. Jadi, tujuan kode etik dibuat adalah untuk mengatur agar pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya itu, nantinya bisa dilakukan dengan benar dan teratur. 

Intinya, kode etik adalah aturan tertulis yang dibuat untuk para pekerja profesional, agar terhindar dari penyelewengan tugas kerjanya. 

5 Kode Etik Arsitek yang Perlu Diketahui

Dalam pemahaman seputar kode etik untuk arsitek ada beberapa hal pokok yang mesti Anda ketahui dan pelajari. Tujuannya adalah supaya dapat diterapkan langsung ketika nanti sudah berada dalam lingkup pekerjaan. Berikut lima kode etik tersebut. 

  • Mukadimah 

Meskipun mukadimah hanyalah berupa pembukaan dalam sebuah naskah tulis yang dibuat, tapi sangatlah penting untuk dibaca dan diketahui. Mukadimah meliputi dari tujuan dibuatnya tulisan tersebut, dan apa saja yang mesti diikuti oleh para pembacanya. 

Misalnya saja mukadimah yang tercantum di dalam naskah kode etik profesi arsitek. Dalam kode etik arsitek, tertulis mukadimah yang berisi: seorang arsitek profesional, mesti menyadari profesinya sebagai salah satu profesi terintegrasi  dan juga luhur. 

Bukan hanya itu, seorang arsitek juga dituntut untuk mempersembahkan karya terbaiknya kepada pengguna jasa dan masyarakat atau siapapun yang menggunakan jasanya.

Siap untuk memperkaya lingkungan dengan karya, serta khasanah kebudayaan. Terus mengacu ke masa depan dan saling memelihara diantara sesama teman seprofesinya, agar habitat profesi arsitek terus tetap berkelanjutan. Selain itu, seorang arsitek profesional juga diharuskan untuk selalu menaati perangkat etika, yang bersumber pada nilai-nilai luhur keyakinannya masing-masing. 

Tujuannya, agar dapat membimbingnya dalam berpikir, bersikap dan berperilaku ketika melaksanakan tugas dan kewajiban bertanggung jawabnya terhadap profesionalitas kerja yang sedang dijalankan. 

  • Kaidah Dasar 

Dalam kaidah dasar ini terbagi dalam lima komponen penting yaitu: 

Kaidah Dasar Pertama> Kewajiban umum seorang arsitek

Kewajiban umum seorang arsitek adalah mereka harus dituntut untuk mempelajari beberapa ilmu pengetahuan yang meliputi: 

  1. Seni budaya 
  2. Ilmu cakupan kegiatan yang berhubungan dengan arsitektur dan
  3. Keterampilan arsitektur 

Ketiga ilmu pengetahuan tersebut akan didapatakan ketika mereka duduk dibangku perkuliahan sebagai mahasiswa. Dimana matinya ilmu ini akan sangat berguna untuk membentuk kepakaran serta kecakapan yang sudah siap diuji kelayakannya melalui ujian keprofesian arsitek. 

Kaidah Dasar Kedua> Kewajiban terhadap masyarakat

Selai untuk dirinya sendiri, orang dengan profesi arsitek juga harus memiliki kewajiban dalam kemasyarakatan. Dengan kata lain, seorang arsitek harus menomorduakan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan umum. Kaidah Dasar Ketiga> Kewajiban terhadap pengguna jasa 

Arsitek merupakan sebuah profesi yang akan terus berhubungan dengan orang lain. Untuk itu, mereka harus dituntut untuk selalu profesional dalam menjalankan tugas-tugas mereka. 

Kaidah Dasar Keempat> Kewajiban terkait profesi

Dalam lingkup pekerjaan, seorang arsitek wajib untuk selalu menjunjung tinggi martabat, sikap integritas terkait profesi yang ditekuninya. Mereka juga harus memiliki sikap saling menghargai serta menghormati hak dan kepentingan orang lain. 

Kaidah Dasar Kelima> Kewajiban terhadap rekan kerja

Terakhir, seorang arsitek dituntut untuk selalu mengakui terkait hak-hak aspirasi dari rekan seprofesi. Mereka juga dituntut untuk salah menghargai kontribusi satu sama lain baik selama proses pengerjaan proyek ataupun setelahnya. 

Kode Etik Tata Laku Profesi Arsitek IAI

Anggota Ikatan Arsitek Indonesia wajib mentaati syarat-syarat Kode Tata Laku Profesi yang dimuat dalam pasal-pasal berikut ini. 

Pasal 1 

Dalam menunaikan tugas yang dipercayakan kepadanya, mengerahkan segala keahlian dan pengalaman yang ada padanya hanya untuk kepentingan pihak pemberi tugas, sepanjang kepentingan ini tidak melanggar Kode Tata Laku Profesi. 

Pasal 2 

Tidak menerima tugas / pekerjaan dimana terdapat pertentangan-pertentangan akibat kepentingan pribadi yang berlawanan dengan tanggung jawab serta kewajiban Profesi Arsitek.

Pasal 3 

Tidak menerima lain macam imbalan jasa, kecuali gaji dalam hubungan kerja sebagai pegawai, atas honorarium dari penggantian ongkos menurut persatuan imbalan jasa, yang dinyatakan berlaku oleh Ikatan Arsitek Indonesia dalam hubungan kerja sebagai Arsitek atau Konsultan dengan praktek swasta. 

Pasal 4 

Tidak bersaing terhadap sesama rekan Arsitek dengan imbalan jasa yang lebih rendah dari pada peraturan imbalan jasa yang dinyatakan berlaku oleh Ikatan Arsitek Indonesia. 

Pasal 5 

Tidak mencoba merebut pekerjaan yang sedang dalam taraf perundingan antara pemberi tugas dengan sesama Rekan Arsitek.

Pengaturan besarnya Imbalan Jasa (Fee) khususnya sebagai Arsitek sebagai konsultan Perencana atau Konsultan Pengawas pada proyek-proyek Pemerintah dapat mengacu kepada peraturan yang biasanya dikenal dengan nama buku biru, yaitu sudah dibuatkan tabel dengan interpolasi besaran Imbalan Jasanya. Sedangkan untuk proyek Masyarakat (Swasta) dapat mengacu kepada Standar Imbalan Jasa yang diatur didalam buku Pedoman Hubungan Kerja antara Arsitek dengan Pemberi Tugas. Terdapat perbedaan yang sangat prinsip, yaitu standar buku merah adalah standar minimal fee arsitek sedangkan buku biru adalah standar maksimal untuk biaya konsultan. 

Pasal 6 

Tidak menerima pekerjaan yang dimaksud dalam pasal 4, jika belum ada kepastian mengenai putus hubungan kerja disertai penyelesaian segala kewajiban pemberi tugas kepada sesama Rekan Arsitek termaksud. Pasal 7 Tidak menawarkan jasa-jasanya melalui iklan dan lain-lain cara yang lazim dalam dunia perdagangan. 

Pasal 8 

Sebagai Arsitek tidak mengadakan kerjasama dalam bentuk asosiasi (“Partnership”) dengan lain macam bidang usaha, kecuali dengan Profesi yang sejiwa seperti Perencana Kota (Planner). Arsitek Pertamanan, Arsitek Interior, Konstruktor dan Konsultan-konsultan ahli lainnya. 

Pasal 9 

Tidak turut dalam Sayembara Perencanaan yang tidak berdasarkan peraturan sayembara yang disetujui oleh Ikatan Arsitek Indonesia. 

Pasal 10 

Tidak menandatangani gambar-gambar rencana, maupun uraian pekerjaan dan spesifikasi teknik hasil karya orang lain guna mendapatkan izin bangunan atau legalitas hukum lainnya, kecuali dalam suatu hubungan kerja. 

Pasal 11 

Tidak mencemarkan atau mengganggu nama sesama Rekan Arsitek melainkan menyampaikan segala macam pengaduan kepada Ikatan Arsitek Indonesia. 

Pasal 12 

Tidak menggunakan rancangan dari sesama Rekan Arsitek tanpa persetujuannya. 

Pasal 13 

Memanfaatkan penemuannya atau hasil karyanya untuk kepentingan-kepentingan atas dasar pembayaran hak cipta (Royalti) yang pantas jika dipakai dalam tugas pekerjaan sesama Rekan Arsitek dan tidak menambahkan pungutan bayaran apapun juga, jika dipakai dalam tugas pekerjaan yang dilakukan sendiri 

Pasal 14 

Bersikap dan bertindak loyal terhadap sesama Rekan Arsitek mengusahakan sedapat mungkin agar Rekan-rekan Muda yang bekerja di bawah pimpinannya memperoleh kedudukan yang sesuai dengan kecakapannya membantu rekan-rekan muda pada umumnya mendapatkan tugas pekerjaan yang sesuai dengan bakatnya. 

Pasal 15 Bersikap dan bertindak adil antara Pemberi Tugas, Kontraktor dan lain pihak yang ada sangkut pautnya dalam pelaksanaan pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *