Fakta Menarik Arsitek Bali, Gabungan Budaya dan Filosofi Agama Hindu

Ketentuan : Desain ini adalah hak cipta dari Tukangprofesional.id. Jika menggunakan gambar ini untuk konten sosial media, blog, website dan lain-lain, diharapkan mencantumkan link ke situs kami, Terimakasih.

Membicarakan tentang Pulau Bali tidak bisa hanya sebatas budaya, keindahan alam serta pariwisatanya saja. Masih ada hal menarik lain yang perlu di ulik salah satunya adalah seni arsitekturnya. 

Karena seperti yang diketahui bersama, arsitektur Bali memiliki nilai seni serta keunikan yang khas. Tak heran jika banyak orang mulai mengulik fakta menarik arsitektur Bali. 

Artikel ini akan secara khusus membahas seputar keunikan arsitektur Bali secara lebih lengkap. Silakan scrol ke bawah untuk informasi lengkapnya. 

Fakta Menarik Dibalik Arsitektur Bali 

Dibalik megahnya bangunang adat Bali menyimbaong beragam fajkta unik khususnya dari segi arsitektur. Sebagian besar dari bangunaan tersebut bahkan mengandung filosofi serta unsur budaya yang melekat kuat. Dan berikut adalah beberapa fakta di balik arsitektur Bali yang perlu Anda ketahui: 

Setiap Bangunanya Memiliki Filosofi Tersendiri 

Fakta pertama dari arsitektur Bali adalah semua bangunnya memiliki nilai seni dan filosofi tersendiri. Filosofi ini secara otomatis menjadi sebuah edukasi atau nilai dasar ketika seseorang ingin membangun sebuah bangunan khas Pulau Bali. 

Filosofi tersebut terbagi dalam tiga macam kategori yaitu Filosofi Tri Hita Karana atau yang diartikan sebagai tiga unsur yang menjadi kepercayaan umat Hindu. Unsur ini akan digunakan oleh umat Hindu ketika sat akan membangun sebuah bangunna Bali. Filosofi ini memiliki arti dimana manusia dapat menjaga hubungan baik dengan Tuhan, manusia dan makhluk hidup lainnya. 

Sehingga nanti jika akan membangun bangunan unsur dari filosofi tersebut harus digunakan dan saling berkolaborasi antara satu dengan yang lainnya. Ketiga unsur ini juga menjadi salah satu ciri khas dari berbagai bangunan di Bali.

Kedua ada filosofi Tri Mandala, Tri Angga, Sanga Mandala dan Tri Loka. Empat filosofi tersebut mempunyai hubungan serta dengan penataan, struktur dan bentuk bangunan yang berhubungan dengan alam. 

Sedangkan untuk filosofi ketiga adalah Asta Kosala Kosali dan juga Arga Segara. Untuk pengertian dari Asta Kosala Kosali sendiri memiliki keyakinan bahwa dalam seni membangun sebuah bangunan memiliki 8 pedomaan yang tak boleh dilanggar atau dilewatkan. 

Sedangkan Harga Segara mengandung arti bahwa air suci baik dari lautan atau gari gunung memiliki kesinambungan atau hubungan dengan alam. Hal tersebut yang kemudian menjadi ciri khas arsitektur di Bali. 

Semua Arsitek Bali Menggunakan Metode Pengukuran Tradisional 

Fakta kedua dibalik arsitektur Bali adalah metode pengukuran tradisional yang masih digunakan oleh arsitek Bali hingga saat ini. Namun meski menggunakan metode perhitungan tradisional namun hal tersebut justru menjadi salah satu ciri khas dan keunikan dari semua bangunan di Bali. 

Metode pengukuran tradisional ini umumnya menggunakan jari yang disebut dengan: 

  • Agu> Sebuku jari atau dua jari dan petang jari atau empat jari 
  • Musti>Sekepalan tangan dimana ibu jari menghadap ke atas 
  • Alek>Sepanjang jari tengah
  • Akacing>Sepanjang jari kelingking 
  • Hasta> Sejengkal jarak tangan. Dari pergelangan tengah hingga ujung jari tengah yang terbuka. 
  • Depa>Seukuran dari dua bentang tangan yang direntangkan dari kiri ke kanan. 

 

Terdapat Aturan Penataan Pekarangan Rumah Dalam Arsitek Di Pulau Bali 

Fakta menarik selanjutnya adalah seputar aturan dalam hal penataan pekarangan rumah dalam setiap bagunan khas Bali. Aturan pertama yang paling terlihat yaitu pekarangan harus berada di tengah-tengah dari posisi rumah atau bangunan. 

Jika Anda sering berkunjung ke Bali atau pernah melihat rumah adat Bali pasti sering melihat pekarangan yang berada di tengah-tengah rumah. Pekarangan ini biasanya dibuat sangat luas untuk memberi kesan sejuk dan asri. 

Selain harus berada di tengah bangunan, pekarangan juga tidak boleh berada di ujung sate. Hal ini bertujuan untuk menghindari kesialan yang mungkin saja bisa terjadi. Terakhir, penataan seputar pekarangan akan lebih baik lag jika berada atau bersebelahan dengan jalan raya. 

Konsep Struktur Tri Angga Dalam Arsitektur Bangunan Bali 

Struktur bangunana Bali memang tak bisa lepas dari filosofi tradisional; yaitu Tri Angga. Dimana filosofi tersebut terbagi dalam tiga bagian yang terakit dengana keseimbaangan serta kelesartiaan alam. 

Di dalam prissip arsiterkturr dalam bangunan Bali, struktur baangunan tersebut terbagi menjadi: 

  • Utama

Utama atau kepala merupakan simbol tertinggi yang diwujudkan di dalam bentuk atap rumah. Pada bangunan rumah Bali atap dulunya dibuat dari bahan dasar ijuk serta alang-alang. Namun sirung dengana berkembaanganyaa jaman, atap kini dibuat dari bahan dasar genteng serta material yang lebih modern lainnya. 

  • Madya

Madya atau badan yang merepresentatifkan dalam bentuk bangunan pintu, dinding dan jendela khas Bali. 

  • Nista 

Nista atau kaki merupakan bagian paling bawah dari bangunan khas Bali. Bangunan ini merepresentatifkan dalam bentuk pondasi rumah yang digunakan sebagai penyangga rumah. Pondasi rumah ini biasa dibuat dari material batu kali ataupun batu bata. 

Itulah beberapa fakta unik arsitek Bali yang memiliki makna dan ciri khas khusus. Pada dasarnya, konsep bangunan Bali mengutamakan pada alam, kosmologi, kebudayaan dan sisi ergonomis dari calon penghuninya. Selain itu, dalam pembangunan rumah ada Bali juga melibatkan banyak ritual budaya dan keagamaan yang dilibatkan.  

Tak sekedar menghormati budaya, beberapa fakta ini sekaligus menjadi salah satu warisan budaya yang wajib untuk dilestarikan. Sekian  pembahasan kali ini semoga bermanfaat. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *